Pada zaman dahulu, di sebuah wilayah yang masih berupa hutan lebat dan belum berpenghuni, hiduplah sekelompok orang yang dipimpin oleh seorang tokoh bijaksana bernama Ki Wira Jaya. Mereka mencari tempat baru untuk menetap karena daerah asal mereka mengalami kekeringan panjang.
Setelah melakukan perjalanan berhari-hari, rombongan tersebut menemukan sebuah daerah yang subur dengan sumber air yang melimpah. Namun, tempat itu masih dipenuhi oleh semak belukar dan pohon-pohon besar yang rapat.
Ki Wira Jaya kemudian memerintahkan warganya untuk mulai membuka lahan tersebut. Mereka bekerja keras bersama-sama menebang pohon, membersihkan semak, dan meratakan tanah. Kegiatan membuka hutan ini dalam bahasa Jawa sering disebut “mbabat alas”.
Namun, proses itu tidak mudah. Setiap kali mereka membuka lahan, seolah-olah alam kembali “menutup”nya dengan cepat—pohon tumbuh kembali, dan semak muncul lagi. Mereka pun menyebut daerah itu sebagai tempat yang “re-mbang”, yang diartikan sebagai “terbuka kembali” atau “terulang kembali”.
Meski begitu, dengan kegigihan dan kerja keras, akhirnya mereka berhasil menjadikan daerah itu sebagai permukiman yang layak. Tanahnya subur, airnya jernih, dan kehidupan mulai berkembang dengan baik.
Sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan mereka membuka hutan yang selalu “mbang” (terbuka kembali), Ki Wira Jaya memberi nama daerah tersebut Rembang.
Sejak saat itu, Desa Rembang dikenal sebagai desa yang lahir dari semangat kerja keras, kebersamaan, dan pantang menyerah.
Sumber Cerita : AI
