Pages

Showing posts with label Kisah Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Kisah Hikmah. Show all posts

Wednesday, March 6, 2024

Amalan Malam Hari Raya Dari Simbah Abdul Karim Lirboyo

Oleh: Mbah Bram

Sebagaimana riwayat mbah Maimun Zubair, mbah Manab dawuh: 

"sak nakal-nakale santri lek malem riyoyo ojo sampek ora ngurip-ngurip wengi sak ora-orane sholat ba'diyah Isya' ditambah sak rakaat witir"

Monggo menawi saget dipun amalaken. Wasiat KH. Abdul Karim Lirboyo: Hidupkan Malam Hari Raya!

Berikut ini amalan pada malam Hari Raya (Idul Adlha dan Idul Fitri), seperti disebut dalam kitab Kanzun Najah Was Surur, karya Syaikh Abdul Hamid Al Qudsi, dan riwayat dawuh Syaikh Abdul Karim Lirboyo (Mbah Manab) oleh Syaikhina KH.Maimoen Zubair.

Nabi Muhammad SAW bersabda:


عن عبادة بن الصامت رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “من أحيا ليلة الفطر وليلة الأضحى لم يمت قلبه يوم تموت القلوب” رواه الطبراني في الكبير والأوسط.


Dari Ubadah Ibn Shomit r.a. Sungguh Rosulullah SAW bersabda: 

Barangsiapa menghidupkan malam Idul Fitri dan malam Idul Adlha, hatinya tidak akan mati, di hari matinya hati. 

HR.Thobaroni


عن أبي أمامه رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : “من قام ليلتي العيدين محتسباً لم يمت قلبه يوم تموت القلوب”. وفي رواية “من أحيا” رواه ابن ماجه


Dari Abi Umamah r.a, dari Nabi SAW, bersabda: Barangsiapa menegakkan dua malam Hari Raya dengan hanya mengharap ALLOOH, maka hatinya tidak akan mati pada hari matinya hati. HR. Ibnu Majah.

Bagaimana cara menghidupkan/ menegakkan dua Hari Raya itu? Telah disebutkan oleh Syaikh Abdul Hamid Al Qudsi, dengan mengamalkan beberapa amalan:

1. Syaikh Al Hafni berkata: 

Ukuran minimal menghidupkan malam bisa dengan Sholat Isya’ berjama’ah dan meniatkan diri untuk jama’ah Sholat Shubuh pada besoknya. Atau memperbanyak sholat sunnah dan bacaan2 dzikir.

2. Syaikh Al Wanna’i dalam risalahnya: Barangsiapa membaca istighfar seratus kali (100×) setelah Sholat Shubuh di pagi Hari Raya, maka akan dihapus dosa-dosanya di dalam buku catatannya, dan pada hari kiamat akan aman dari siksa.

3. Masih dari Syaikh Al Wanna’i: Barangsiapa membaca ,

سبحان الله وبحمده

SubhaanaLLooh wabihamdihi 100× pada Hari Raya, dan menghadiahkan pahalanya untuk ahli kubur, maka para ahli kubur berkata

,”Wahai Dzat Yang Maha Penyayang, rahmatilah ia, dan jadikanlah ia ahli surga”.

4. Syaikh Al Fasyni berkata dalam Tuhfatul Ikhwan: Dari Sahabat Annas, dari Kanjeng Nabi SAW, dawuh (yg artinya): Hiasilah dua Hari Raya dengan tahlil, taqdis, tahmid dan takbir”. 

Nabi juga dawuh: Barangsiapa yang membaca:

سبحان الله وبحمده

SubhaanaLLooh wabihamdihi 300×

dan ia menghadiahkan untuk muslimin yg sudah wafat, maka seribu cahaya akan masuk di setiap kuburan, dan Gusti Allooh akan memasukkan seribu cahaya ke kuburnya jika ia meninggal.

5. Syaikh Az Zuhri berkata: Sahabat Anas r.a. berkata, Nabi SAW dawuh (yg artinya): Barangsiapa di dua Hari Raya mengucapkan:

لا اله الا الله وحده لا شريك له، له الملك و له الحمد يحي و يميت و هو حي لا يموت بيده الخير وهو على كل شيئ قدير

"Lailaha illallohu wahdahu la syarikalah, lahul mulku walahul hamdu yuhyi wayumitu wahuwa khayyun la yamut biyadihil khoir wahuwa ala kulli syai'in qodir"

Sebanyak 400× sebelum Sholat ‘Ied, maka Gusti Allooh SWT akan menikahkannya dg 400 bidadari, seakan memerdekakan 400 budak, dan Gusti Allooh SWT mewakilkan para malaikat untuk membangun kota-kota dan menanam pohon-pohon untuknya di hari kiamat.

Beliau Syaikh Az Zuhri berkata: 

“Aku tidak pernah meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari Sahabat Anas r.a. Dan Anas r.a. dahulu jg berkata: 

“Aku tidak pernah meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari Nabi SAW.”

Wasiat KH. Abdul Karim Lirboyo

Diriwayatkan dari Syaikhina Wa Murobbi Ruuhina KH.Maimoen Zubair, dari Syaikh Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur, beliau dawuh:

“Sak makendut-makendute santri ojo nganti ora ngurip-urip malem rioyo loro, kanthi sholat ba’diyah Isya’ rong rakaat ditambah sholat witir sak rakaat”.

Artinya:

“Senakal-nakalnya santri jangan sampai tidak menghidupkan dua malam hari raya (Idul Fithri dan Idul Adlha) dengan melaksanakan sholat sunah minimal dua rokaat setelah Isya’ dan satu rokaat witir”

WaLLoohu A’lam Bishshowaab….

Saturday, February 3, 2024

Silsilah(Nasab) Sunan Ampel

Silsilah Sunan Ampel Menurut Isbat Resmi Naqobah Ansab Irak, India, dan Mesir.

Wali Songo merupakan dzuriyah Nabi Muhammad Saw. dari jalur al-Kazimi al-Husaini dan al-Jailani al-Hasani. Catatan nasab Wali Songo terintegrasi secara rapi di sejumlah wilayah Asia dan Timur Tengah. Termasuk Pakistan, Uzbekistan, Mesir, Lebanon, Irak, dan Maroko.


Bahwa Sunan Ampel merupakan dzuriyah Nabi Saw. dari jalur Al-Kazimi al- Husaini. Di sejumlah negara Asia, jalur ini juga disebut dengan An-Naqowi al-Bukhori al-Husaini. Berikut ini silsilah Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) yang sudah diisbat Naqobah Internasional.


Sayyidina Kanjeng Nabi Muhammad Saw. 


1). Sayyidah syarifah Fathimatuz  Zahro


2). Sayyid syarif asy-syahid Husain


3). Sayyid syarif Ali Zainal Abidin


4). Sayyid syarif Muhammad al-Baqir


5). Sayyid syarif Imam Ja’far ash-Shodiq


6). Sayyid syarif Musa Al-Kazhim


7). Sayyid syarif Ali Ar-Ridho


8). Sayyid syarif Muhammad At-Taqi

Sayyid syarif Muhammad al-Jawad


9). Sayyid syarif Ali An-Naqi an-Hadi


10) Sayyid syarif Ja’far az-Zaki


11). Sayyid syarif Ali al-Asyqori


12). Sayyid syarif Abdulloh


13). Sayyid syarif Ahmad


14). Sayyid syarif Mahmud


15). Sayyid syarif Muhammad


16). Sayyid syarif Ja’far


17). Sayyid syarif Ali


18). Sayyid syarif Makhdum Husein Jalaluddin al-Bukhori


19). Sayyid syarif Makhdum Ahmad Kabir


20).Sayyid syarif Makhdum Jalaluddin Husain


21). Sayyid Syarif Makhdum Mahmud Nasiruddin / Mahmudinil Kubro


22). Sayyid Syarif Makdhum Jamaluddin Akbar/ Jumadil Kubro


23). Sayyid Syarif Makhdum Ibrahim Assamarkandy


24). Makhdum Sunan Ampel / Sayyid Syarif Ali Ahmad Rahmatullah, berputra antara lain:


25). Sunan Bonang Makhdum Ibrahim dan Sunan Drajat Makhdum Qosim


Sunan Ampel punya sejumlah anak. Baik perempuan maupun laki-laki. Di antara anak yang terkenal, adalah Sayyid Makdum Ibrahim (Sunan Bonang) dan Sayyid Syarifuddin (Sunan Drajat).


Silsilah Sunan Ampel ke bawah, banyak tersimpan di manuskrip-manuskrip yang ada di kasepuhan-kasepuhan dan pesantren-pesantren dzuriyah Wali Songo. Manuskrip tersebut selalu terjaga dan terupdate setiap zaman.


Waallahu Alam

Sunday, December 31, 2023

KH.As'ad Syamsul Arifin

 ."Kisah KHR.As'ad Syamsul Arifin Saat Disuruh Syaikhona Kholil Bangkalan (Pada Tahun 1924)"


Asalnya saya ini mengaji di pagi hari, dimarahi oleh kyai, karena saya tidak bisa mengucapkan huruf Ro'. Saya ini pelat (cadal). “Arrohman Arrohim…”


Kyai marah: “Bagaimana kamu membaca al-Quran kok seperti ini? Disengaja apa tidak?!”


“Saya tidak sengaja Kyai. Saya ini pelat.”


Kyai kemudian keluar (Kyai Kholil melakukan sesuatu). Kemudian esok harinya pelat saya ini hilang. Ini salah satu kekeramatan Kyai yang diberikan kepada saya.


Kedua, saya dipanggil lagi: “Mana yang cedal itu? Sudah sembuh cedalnya?”


“Sudah Kyai.”


“Ke sini. Besok kamu pergi ke Hasyim Asy’ari Jombang. Tahu rumahnya?”


“Tahu.”


“Kok tahu? Pernah mondok di sana?”


“Tidak. Pernah sowan.”


“Tongkat ini antarkan, berikan pada Hasyim. Ini tongkat kasihkan.”


“Ya, kyai.”


“Kamu punya uang?”


“Tidak punya, kyai.”


“Ini.”


Saya diberikan uang Ringgit, uang perak yang bulat. Saya letakkan di kantong. Tidak saya pakai. Sampai sekarang masih ada. Tidak beranak, tapi berbuah (berkah). Beranaknya tidak ada. Kalau buahnya banyak. Saya simpan. Ini berkah. Ini buahnya.


Setelah keesokan harinya saya mau berangkat, saya dipanggil lagi: “Ke sini kamu! Ada ongkosnya?”


“Ada kyai.”


“Tidak makan kamu? Tidak merokok kamu? Kamu kan suka merokok?”


Saya dikasih lagi 1 Ringgit bulat. Saya simpan lagi. Saya sudah punya 5 Rupiah. Uang ini tidak saya apa-apakan. Masih ada sampai sekarang. Kyai keluar: “Ini (tongkat) kasihkan ya, (Kyai Kholil membaca QS. Thaha ayat 17-21):


وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١


“Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”


Karena saya ini namanya masih muda. Masih gagah. Sekarang saja sudah keriput. Gagah pakai tongkat dilihat terus sama orang-orang. Kata orang Arab Ampel: “Orang ini gila. Muda pegang tongkat.”


Ada yang lain bilang: “Ini wali.”


Wah macam-macam perkataan orang. Ada yang bilang gila, ada yang bilang wali. Saya tidak mau tahu, saya hanya disuruh Kyai. Wali atau tidak, gila atau tidak terserah kamu.


Saya terus berjalan. Saya terus diolok-olok, gila. Karena masih muda pakai tongkat. Jadi perkataan orang tidak bisa diikuti. Rusak semua, yang menghina terlalu parah. Yang memuji juga keterlaluan. Wali itu, kok tahu? Jadi ini ujian. Saya diuji oleh Kyai. Saya terus jalan.


Sampai di Tebuireng, (Kyai Hasyim bertanya): “Siapa ini?”


“Saya, Kyai.”


“Anak mana?”


“Dari Madura, Kyai.”


“Siapa namanya?”


“As'ad.”


“Anaknya siapa?”


“Anaknya Maimunah dan Syamsul Arifin.”


“Anaknya Maimunah kamu?”


“Ya, Kyai”


“Keponakanku kamu, Nak. Ada apa?”


“Begini Kyai, saya disuruh Kyai (Kholil) untuk mengantar tongkat.”


“Tongkat apa?”


“Ini, Kyai.”


“Sebentar, sebentar…”


Ini orang yang sadar. Kyai ini pintar. Sadar, hadziq (cerdas). “Bagaimana ceritanya?”


Tongkat ini tidak langsung diambil. Tapi ditanya dulu mengapa saya diberi tongkat. Saya menyampaikan ayat:


وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١


“Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”


"Alhamdulillah, Nak. Saya ingin mendirikan Jam’iyah Ulama. Saya teruskan kalau begini. Tongkat ini tongkat Nabi Musa yang diberikan Kyai Kholil kepada saya.”


Inilah rencana mendirikan Jam’iyah Ulama. Belum adaNahdlatul Ulama. Apa katanya? Saya belum pernah mendengar kabar berdirinya Jam’iyah Ulama. Saya tidak mengerti.


Setelah itu saya mau pulang. “Mau pulang kamu?”


“Ya, Kyai.”


“Cukup uang sakunya?”


“Cukup, Kyai.”


“Saya cukup didoakan saja, Kyai.”


“Ya, mari. Haturkan sama Kyai, bahwa rencana saya untuk mendirikan Jam’iyah Ulama akan diteruskan.”


Inilah asalnya Jam’iyatul Ulama.


Tahun 1924 akhir, saya dipanggil lagi oleh Kyai Kholil: “As'ad, ke sini! Kamu tidak lupa rumahnya Hasyim?”


“Tidak, Kyai.”


“Hasyim Asy'ari?”


“Ya, Kyai.”


“Di mana rumahnya.”


“Tebuireng.”


“Dari mana asalnya?”


“Dari Keras (Jombang). Putranya Kyai Asy’ari Keras.”


“Ya, benar. Di mana Keras?”


“Di baratnya Seblak.”


“Ya, kok tahu kamu?”


“Ya, Kyai.”


“Ini tasbih antarkan.”


“Ya, Kyai.”


Kemudian diberi uang 1 Ringgit dan rokok. Saya kumpulkan. Semuanya menjadi 3 Ringgit dengan yang dulu. Tidak ada yang saya pakai. Saya ingin tahu buahnya.


Terus, pagi hari Kyai keluar dari Langgar: “Ke sini, makan dulu!”


“Tidak, Kyai. Sudah minum wedang dan jajan,”


“Dari mana kamu dapat?”


“Saya beli di jalan, Kyai”


“Jangan membeli di jalan! Jangan makan di jalan! Santri kok makan di jalan?”


“Ya, Kyai.”


Saya makan di jalan dimarahami. Santri kok menjual harga dirinya? Akhirnya saya ditanya: “Cukup itu?”


“Cukup, Kyai.”


“Tidak!”


Diberi lagi oleh Kyai. Dikasih lagi 1 Ringgit. Saya simpan lagi. Kemudian tasbih itu dipegang ujungnya: “Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.” Jadi Ya Jabbar 1 kali putaran tasbih. Ya Qahhar 1 kali putaran tasbih. Saya disuruh dzikir.


“Ini.”


Disuruh ambil. Saya tengadahkan leher saya. “Kok leher?”


“Ya, Kyai. Tolong diletakkan di leher saya supaya tidak terjatuh.”


“Ya, kalau begitu.”


Jadi saya berkalung tasbih. Masih muda berkalung tasbih. Saya berjalan lagi, bertemu kembali dengan yang membicarakan saya dulu: “Ini orang yang megang tongkat itu? Wah.. Hadza majnun.” Ada yang bilang "wali", ya seperti tadi. Jadi saya tidak menjawab. Saya tidak bicara kalau belum bertemu Kyai. Saya berpuasa. Saya tidak bicara, tidak makan, tidak merokok, karena amanatnya Kyai. Saya tidak berani berbuat apa-apa. Sebagaimana kepada Rasulullah, ini kepada guru. Saya tidak berani. Saya berpuasa. Saya tidak makan, tidak minum tidak merokok. Tidak terpakai uang saya.


Ada yang narik: “Karcis! karcis!”


Saya tidak ditanya. Saya pikir ini karena tasbih dan tongkat. Saya pura-pura tidur karena tidak punya karcis. Jadi selama perjalanan 2 kali saya tidak pernah membeli karcis. Mungkin karena tidak melihat saya. Ini sudah jelas keramatnya Kyai. Jadi Auliya' itu punya karomah. Saya semakin yakin dengan karomah. Saya semakin yakin.


Saya lalu sampai di Tebuireng, Kyai (Hasyim) tanya: “Apa itu?”


“Saya mengantarkan tasbih.”


“Masya Allah, Masya Allah. Saya diperhatikan betul oleh guru saya. Mana tasbihnya?”


“Ini, Kyai.” (dengan menjulurkan leher).


“Lho?”


“Ini, Kyai. Tasbih ini dikalungkan oleh Kyai ke leher saya, sampai sekarang saya tidak memegangnya. Saya takut su'ul adab (tidak sopan) kepada guru. Sebab tasbih ini untuk Anda. Saya tidak akan berbuat apa-apa terhadap barang milik Anda.”


Kemudian diambil oleh Kyai: “Apa kata Kyai?”


“Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.”


“Siapa yang berani pada NU akan HANCUR.

Siapa yang berani pada ulama akan HANCUR.” Ini dawuhnya.


ALLAHUMMA sholli 'alaa sayyidina muhammad wa angzilhu almaq 'ada almuqorrobba 'indaka yaumal qiyyamah

wa 'alaa aalihi wa barrik wa sallim ajma'iin..

Saturday, August 2, 2014

Beliau ( Muhammad saw ) Menuju Sidratul Muntaha (Isra' Mi'raj)

  Isra Miraj yang diperingati setiap 27 Rajab merupakan salah satu peristiwa penting dalam perjalanan keislaman Nabi Muhammad SAW. Perjalanan ini menjadi peristiwa penting bagi Nabi Muhammad karena pada peristiwa ini Nabi Muhammad SAW mendapatkan perintah untuk menjalankan shalat lima waktu dari Allah SWT.

Peristiwa Isra

  Peristiwa Isra Miraj merupakan perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW yaitu dilakukannya perjalanan dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjid Al Aqsa di Yerusalem hingga naik ke langit ke tujuh atau Sidratul Muntaha. Peristiwa Isra Miraj terjadi setelah meninggalnya paman Nabi Muhammad, Abi Thalib dan Istrinya, Siti Khadijah.

  Dalam bahasa arab, Isra berarti perjalanan di malam hari, sedangkan Miraj artinya kenaikan. Dalam perjalanannya, Nabi Muhammad mengendarai kendaraan superkilat hewan Buraq yang digambarkan sebagai kuda putih dengan sayap dan ekor seperti burung merak. Jarak Mekkah dan Yerussalem pada saat itu umumnya ditempuh menggunakan kuda atau unta selama satu bulan, namun Nabi Muhammad SAW melakukannya dalam semalam. Di Masjid Al Aqsa diceritakan, Nabi Muhammad memimpin shalat nabi – nabi terdahulu shalat dua rakaat.

Peristiwa Miraj

  Peristiwa Miraj dilaksanakan Nabi Muhammad dari Masjid Al Aqsa naik ke langit ketujuh atau Sidratul Muntaha. Dalam perjalannnya, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan nabi – nabi terdahulu pada setiap tingkatan yakni :

Nabi Adam di langit pertama

Nabi Isa dan Yahya di langit kedua

Nabi Yusuf di langit ketiga Nabi Idris di langit keempat

Nabi Harun di langit kelima

Nabi Musa di langit keenam

Nabi Ibrahim di langit ketujuh

  Diriwayatkan pada awalnya, Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk shalat 50 waktu dalam sehari. Nabi Muhammad pernah diingatkan Nabi Musa bahwa jumlah tersebut terlalu besar sehingga disarankan untuk meminta keringanan. 

  Setelah nabi Muhammad saw melewati telaga Al-Kautsar,surga dan neraka kemudian beliau menuju sidratul muntaha.
  Dan Allah swt. berfirman kepada Nabi Muhammad saw. : Wahai Muhammad.
Nabi Muhammad menjawab dengan sabdanya : Labbaik wahai Rabbku.
Allah swt. berfirman lagi : Mintalah sesuka hatimu
Nabi Muhammad saw bersabda : Ya Allah,Engkau telah menjadikan Ibrahim sebagai Khalil ( teman dekat ),Engkau mengajak bicara Musa,Engkau berikan Dawud kerajaan dan kekuasaan yang besar, Engkau berikan Sulaiman kerajaan agung lalu ditundukkan kepadanya Jin,manusia dan syaitan serta angin.Engkau ajarkan Isa At-Taurat dan Injil dan Engkau jadikan dia dapat mengobati orang yang buta dan belang serta menghidupkan orang mati.
Kemudian Allah swt.berfirman : Sungguh Aku telah menjadikanmu sebagai kekasihKu.

  Isra Miraj yang diperingati setiap 27 Rajab merupakan salah satu peristiwa penting dalam perjalanan keislaman Nabi Muhammad SAW. Perjalanan ini menjadi peristiwa penting bagi Nabi Muhammad karena pada peristiwa ini Nabi Muhammad SAW mendapatkan perintah untuk menjalankan shalat lima waktu lima waktu dalam sehari dari Allah SWT.Sejak peristiwa Isra Miraj ini, umat islam diwajibkan shalat .

MAJLIS DZIKIR

Suatu ketika Rasulullah saw,keluar menjumpai sebuah majlis yang terdiri dari para sahabat ,beliau bertanya : Apa yang membuat kalian duduk di sini  ? 
Mereka menjawab : Kami duduk untuk mengingat dan memuji Allah swt. atas petunjuk yang Allah berikan kepada kami sehingga kami bisa memeluk Islam serta mensyukuri nikmat-nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada kami.
Rasulullah saw. menegaskan : Demi Allah ,apakah tidak ada alasan lain bagi kalian selain itu ?
Mereka menjawab : Demi Allah ,tidak ada lain selain itu ya Rasulallah.
Beliau pun bersabda : Sesungguhnya aku sama sekali tidak memiliki prasangka buruk terhadap kalian dengan pertanyaanku .Akan tetapi , Jibril datang kepadaku ,dia mengabarkan kepadaku bahwa Allah swt. membanggakan kalian di hadapan para Malaikat. ( HR. Muslim )